Malam itu, mobil hitam milik Akhil sudah terparkir rapi di depan gedung latihan teater sejak beberapa waktu lalu. Ia datang tepat waktu seperti biasanya, bahkan sedikit lebih awal, dengan niat menjemput Aaren untuk menghadiri makan malam keluarga yang sudah direncanakan. Lampu dalam mobil menyala redup, sementara di luar, suasana masih cukup ramai oleh orang-orang yang keluar masuk gedung.

Akhil sempat mengirim pesan singkat dengan balasan dari Aaren datang tidak lama.

Jawaban yang sederhana dan biasanya tidak pernah jadi masalah. Karena itu, Akhil menunggu dengan tenang, matanya sesekali terangkat ke arah pintu utama gedung, memperhatikan setiap orang yang keluar dengan harapan melihat sosok yang ia cari.

Namun menit demi menit berlalu, dan keramaian mulai berkurang. Beberapa orang sudah pulang, sebagian masih berkumpul di depan gedung, tapi Aaren tidak juga terlihat. Akhil melirik jam di dashboard, lalu kembali melihat ponselnya. Tidak ada pesan baru. Perasaan tidak nyaman mulai muncul perlahan, bukan karena kesal, melainkan karena situasi ini tidak biasa.

Akhirnya, Akhil memutuskan keluar dari mobil. Ia berjalan masuk ke dalam gedung dengan langkah pasti. Begitu pintu terbuka, suasana langsung terasa lebih hidup—suara latihan, tawa, dan percakapan bercampur di satu ruang.

Akhil berhenti sejenak, matanya menyapu sekitar, mencari wajah yang familiar. Namun setelah beberapa detik, ia tidak menemukannya. Saat seseorang berjalan melewatinya, Akhil langsung menghentikannya dengan sopan.

“Permisi,” ucap Akhil, suaranya tenang. “Aaren masih di sini?”

Orang itu menoleh, sedikit berpikir. “Aaren?” ulangnya. “Oh, tadi masih ada sih,”

Akhil menunggu. “Tapi tadi sempat mimisan,” lanjut orang itu. “Kayaknya sekarang di toilet deh.”

Akhil langsung mengernyit. “Mimisan?” tanyanya memastikan.

“Iya, dari tadi latihannya lumayan berat juga. Tadi langsung ke toilet bareng temennya.”

“Di sebelah mana toiletnya?” tanya Akhil lagi, kali ini lebih cepat.

“Itu, lurus terus, nanti belok kanan,” jawab orang itu sambil menunjuk arah.

“Terima kasih,” ucap Akhil singkat. Ia langsung berjalan ke arah yang ditunjuk dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.

Begitu pintu toilet dibuka, pemandangan di dalam langsung membuat langkahnya terhenti sejenak. Aaren berdiri di depan wastafel dengan kepala mendongak, satu tangan menekan hidungnya yang masih mengeluarkan darah. Wajahnya terlihat pucat, napasnya sedikit tidak teratur, dan tubuhnya tampak lebih lemah dari biasanya. Di sampingnya, Ardasa terlihat panik, memegang beberapa lembar tisu yang sudah penuh noda merah.

“Ini masih keluar, Aren, tahan dulu,” ucap Ardasa, meski dirinya sendiri terdengar panik.

Aaren hanya mendesis pelan, jelas tidak nyaman.

“Pusing,” gumamnya pelan.

Akhil langsung mendekat tanpa banyak bicara. Kehadirannya membuat Ardasa menoleh kaget.

“Eh—lo—” Namun Akhil sudah berdiri tepat di depan Aaren. Tatapannya langsung fokus pada kondisinya.